Kamis, 17 November 2016

ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITHIASIS ( BATU BULI / BATU KANDUNG KEMIH )

ASUHAN KEPERAWATAN VESIKOLITHIASIS ( BATU BULI / BATU KANDUNG KEMIH )
A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Vesikolithiasis merupakan batu yang terdapat pada kandung kemih yang terdiri atas substans yang membentuk Kristal seperti kalsium oksalat, fosfat kalsium, asam urat dan magnesium. Batu dapat menyebabkan obstruksi, infeksi atau edema pada saluran perkemihan (copernito, 1990). Vesikolithiasis lebih sering di jumpai di afrika dan asia (terutama Indonesia), sedangkan di ameriaka (baik kulit putih maupun kulit hitam) dan eropa jarang.
Penyakit ini penyebarannya merata di seluruh dunia akan tetapi utama di daerah yang dikenal dengan stone belt atau lingkaran batu (sabuk batu). Di amerika serikat dan eropa hanya 2-10% dari populasi penduduk yang dapat mengalami penyakit ini. Tingkat  kekambuhan setelah serangngan penyakit  adalah 14%, 39%,dan 52% pada tahun ke 1,5, dan 10 secara berurutan. Peningkatan ensiden telah di catat di amerika bagian tengah yaitu suatu daerah yang dilalui sabuk batu, internasional: insiden batu kandung kemih lebih rendah di Negara bukan industry. Di Indonesia merupakan Negara yang di lalui sabuk batu, namun beberapa prevalensi batu urine terdapat di Indonesia masih belum jelas (probo, 2004).
B.     PENGERTIAN
Batu buli – buli atau batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinari atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat ( Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D. Sp. And dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2001 ).
C.     ETIOLOGI
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih adalah :
1.      Faktor Endogen
Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hyperkalsiuria dan hiperoksalouria.
2.      Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.



3.      Faktor lainnya.
Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli (Syaifuddin, 1996).
Batu kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat. Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses pembentukan batu kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine. Dan beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup penggunaan obat-obatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi. ( Prof. Dr. Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001 ).
Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
D.    PATOFISIOLOGI
Kelainan bawaan atau cidera, keadaan & patologis disebabkan karena infeksi, pembentukan batu disaluran kemih & tumor, keadaan tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan menyebabkan sumbatan aliran kemih baik seperti itu disebabkan karena infeksi, trauma & tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan & statis urin. Bila sudah terjadi bendungan & statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2001:997).
Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor kemudian dijadikan dalam beberapa teori (Soeparman, 2001:388):
·         Teori Supersaturasi
·         Teori Matriks
·         Teori Kurangnya Inhibitor
·         Teori Epistaxy
·         Teori Kombinasi


E.     MANIFETASI KLINIS
Ketika batu menghambat dari saluran urin, terjadi obstruksi, meningkatkan tekanan hidrostatik. Bila nyeri mendadak terjadi akut disertai nyeri tekan disaluran osteovertebral dan muncul mual muntah maka klien sedang mengalami episode kolik renal. Diare, demam dan perasaan tidak nyaman di abdominal dapat terjadi.. Batu yang terjebak dikandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik yang menyebar kepala obdomen dan genitalia. Klien sering merasa ingin kemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasi batu gejala ini disebabkan kolik ureter. Umumnya klien akan mengeluarkan batu yang berdiameter 0,5 sampai dengan 1 cm secara spontan. Batu yang berdiameter lebih dari 1 cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan secara spontan dan saluran urin membaik dan lancar. ( Brunner and Suddarth. 2001).
F.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium meliputi pemeriksaan:
1.      Urine
·         pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
·         Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dgn batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
·         Biakan Urin : Buat mengetahui adanya bakteri berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
·         Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam buat melihat apakah terjadi hiperekskresi.
2.      Darah
·         Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
·         Lekosit terjadi karena infeksi.
·         Ureum kreatinin buat melihat fungsi ginjal.
·         Kalsium, fosfat & asam urat.
Adapun pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien batu kandung kemih adalah :.
1.      Foto KUB
Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya batu.
2.      Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu [yang kecil.
3.      EKG
Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
4.      Foto Rontgen
Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal.
5.      IVP ( intra venous pylografi ) :
Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih.
G.    PENATALAKSANAAN MEDIK
OPERATIF
1.      Vesikolitektomi atau secsio alta
alternatif buat membuka & mengambil batu ada di kandung kemih, sehingga pasien tersebut tidak mengalami ganguan pada aliran perkemihannya (Franzoni D.F & Decter R.M)
2.      Nefrostomi
Nefrostomi merupakan suatu tindakan diversi urine menggunakan tube, stent, atau kateter melalui insisi kulit, masuk ke parenkim ginjal dan berakhir di bagian pelvis renalis atau kaliks. Nefrostomi biasanya dilakukan pada keadaan obstruksi urine akut yang terjadi pada sistem saluran kemih bagian atas, yaitu ketika terjadi obstruksi ureter atau ginjal. Nefrostomi dapat pula digunakan sebagai prosedur endourologi, yaitu intracorporeal lithotripsy, pelarutan batu kimia, pemeriksaan radiologi antegrade ureter, dan pemasangan double J stent (DJ stent) (Robert R. Cirillo, 2008).
NONOPERATIF
1.      Litotripsi gelombang kejut ekstrakorpureal.
Prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu
2.      Ureteroskopi.
Mencakup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, litotrips elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.
CONTOH  KASUS VEIKOLITHIAIS
Pengkajian :
Nama : Tn”N”
Umur : 27 Tahun
Keluhan utama : Nyeri pinggang, sakit saat miksi keluar darah serta nyeri pada supra pubis
Pemiriksaan fisik :
·         abdomen nyeri tekan pada pinggang
·         bledder terasa penuh
·         Nyeri pada pangkal paha
DIAGNOSA
TUJUAN DAN KH
INTERVENSI
RASIONAL
Perubahan eliminasi (BAK) retensio urine berhubungan dengan adanya penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya obstruksi mekanik, peradangan
Tujuan : Perubahan pola eliminasi BAK :
Kriteria : Retensio urin teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
1.  Anjurkan klien untuk meningkatkan intake cairan (minimal 3 – 4 liter/hari sesuai dengan toleransi jantung



2. Tampung urine 24 jam catat jika ada batu yang ikut keluar dan kirim kelaboratorium untuk dianalisa

3. Observasi perubahan warna, bau, PH urine setiap 2 jam.



4.      Kolaborasi:
Kolaborasi dalam memonitor pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit BUN (Blood Urea Nitrogen), keratin
Memberikan info tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi seperti infeksi dan perdarahan dapat mengidentifikasi peningkatan obstruksi atau iritasi ureter.

Meningkatkan hidrasi dapat mengeluarkan bakteri darah dan dapat mamfasilitasi pengeluaran batu.

Dapat membantu dalam mengidentifikasi tipe batu dan akan membantu pilihan terapi.
peningkatan BUN, Kreatinin, dan elektrolit-elektrolit tertentu menindikasikan adanya disfungsi ginjal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar